Friday, February 25, 2005

Tawakkal Netral

Tawakkal Netral

“Tawakkal itu adalah memasrahkan diri untuk menghamba kepada Allah, menggantungkan hati kepada Allah dan merasa tenang dengan apa yang telah diberikan-Nya; jika diberi nikmat bersyukur, jika tidak bersabar”

Di dalam buku karangan Dr. Yusuf Al-Qardhawi, berjudul Tawakkal: Jalan Menuju Keberhasilan dan Kebahagiaan Hakiki, terdapat penjelasan-penjelasan yang menarik mengenai hakikat tawakkal.

Secara linguistik, kata tawakkal berasal dari kata “al-Wakalah” yang artinya mewakilkan. Imam Ghazali (Al-Ihya: 4/129, cited in Al-Qardhawi 2004) menerangkan kata al-Wakalah tersebut di dalam kalimat “Urusannya diwakilkan kepada Fulan” maka “urusannya diserahkan kepada si Fulan dan hal tersebut telah dipercayakan sepenuhnya kepadanya”.

Ketika seseorang sudah mewakilkan urusannya kepada orang kepercayaannya, maka tiada tempat di dalam hatinya untuk merasa khawatir. Hatinya senantiasa tentram dan percaya bahwa wakil yang dipilihnya tepat dan sanggup melakukan urusan yang telah diembankan. Al-Ghazali melanjutkan bahwa disinilah pengibaratan kata tawakkal yang dapat dipahami, yaitu sebagai ‘keyakinan hati hanya kepada wakil yang telah ditunjuk’. Secara umum, ada kesepakatan bahwa tawakkal bukan berarti meniadakan usaha sama sekali. Tidak dibenarkan tawakkal dengan berpasrah diri tanpa melakukan usaha apapun (Al-Qardhawi, 2004).

“Tawakkal itu adalah keadaan berbuat tanpa henti (berusaha) dan keadaan tenang dengan tidak mengerjakan apa-apa (pasrah)”

Memang seringkali sulit sekali mengendalikan hati ini agar mempercayakan sepenuhnya segala urusan kita kepada siapapun, bahkan kepada Allah Azza Wa Jalla sekalipun. Akan tetapi, kita harus selalu menanamkan dalam diri kita, bahwa Allah berbeda dengan makhluknya karena Dia-lah Sang Khaliq – Sang Pencipta. Dia Maha Mengetahui baik-buruk urusan kita, dan Dia akan memberikan yang terbaik bagi hamba-hambaNya.

“Tawakkal ada sikap percaya sepenuh hati kepada Allah, merasa tenang kepadaNya dan merasa tentram bersama-Nya”

Setiap keadaan yang kita hadapi, itu adalah dari Allah. Dan yakinlah, bahwa ada kebaikan untuk kita pada setiap kejadian. Jika pada saat menghadapi keadaan yang baik seringkali kita berprasangka baik kepada Allah, namun mengapa ketika menghadapi kesulitan, kita beranggapan yang buruk terhadap Sang Khaliq? Bukankah semua yang kita anggap buruk belum tentu buruk menurut Allah, dan juga hal-hal yang kita anggap baik, belum tentu baik menurut pandangan Allah SWT?

Banyak dari kita, termasuk penulis sendiri, yang berlaku secara emosional dan irrasional bila menghadapi suatu permasalahan. Tidak jarang akhirnya kita menjadi tertekan oleh alam pikiran kita sendiri, karena kurangnya keyakinan bahwa Allah menginginkan yang terbaik untuk kita.

“Tawakkal itu adalah sikap ridha terhadap segala ketentuan Allah”

Misalkan saja dalam hal mencari calon suami/istri. Suatu ketika, kita akan bertemu dengan seseorang yang kita anggap paling pantas sebagai pendamping hidup kita. Kita berjuang mati-matian untuk mempertahankannya karena kita anggap dialah yang terbaik, entah apakah karena ia adalah seorang yang dermawan, rupawan, jutawan, negarawan, dan lainnya. Terkadang kita suka berdalil atas nama cinta dan kasih sayang. Namun, ternyata Allah menakdirkan lain. Tidak sedikit yang mengalami stress karena tidak tahan hidup jauh darinya. Ada yang mengalami gangguan jiwa. Bahkan ada yang sampai bunuh diri. Kita lalu bertanya kepada Allah “Ya Rabbi, mengapa Engkau jauhkan aku darinya? Bukankah dia yang terbaik untukku?” Malah ada sebagian dari kita yang kemudian mengutuk perbuatan-Nya. Astaghfirullah.
Jika pada permulaan menghadapi permasalahan hidup, emosi lebih banyak berpengaruh, dikemudian waktu kita harus lebih tenang. Kita harus lebih bisa menggunakan akal sehat dan kemudian berpikir secara rasional. Ketika kita menghadapi suatu keadaan – baik atau buruk- alangkah baiknya bila kita menganalisa permasalahan tersebut dari berbagai perspektif.

Bila mengambil contoh kasus diatas, argumen yang bisa kita kedepankan kepada hawa nafsu kita sendiri adalah mungkin Allah menakdirkan kita untuk menikah, namun waktunya belum tepat. Tapi mungkin juga Allah tidak pernah menakdiran kita dan dia untuk bersama karena diri kita pada saat ini bukanlah yang terbaik untuknya, dan begitu pula sebaliknya. Dirinya saat ini bukanlah yang terbaik untuk kita. Yakinlah bahwa suatu saat nanti akan datang terbaik untuk kita. Insha Allah.

Allah menginginkan kita untuk bertawakkal – berikhtiar sesuai dengan jalanNya dan ingin agar hati ini pasrah terhadap segala macam keputusan yang Allah berikan. Allah menginginkan qalbu para hambaNya tidak terikat dengan apapun kecuali denganNya. Sehingga anggaplah hal-hal yang Allah berikan kepada kita sebagai pelatihan agar kita berlatih tawakkal netral, bukan condong kepada hal-hal yang kita senangi saja.

‘Tawakkal itu adalah menyerahkan diri kepada Allah terhadap apa yang Ia kehendaki”

Di dalam alur kehidupan yang kita jalani, alangkah indahnya bila kita senantiasa bertawakkal. Mengoptimalkan ikhtiar kita di jalanNya, dan senantiasa menjaga agar hati ini ridha terhadap segala keputusan Allah Azza Wa Jalla Yang Maha Mengetahui segala hal yang terbaik bagi makhlukNya. Dan tanamkan selalu dalam hati dan pikiran kita, bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik. Insha Allah. Amin ya Rabbal Alamin.

SiD©
Jakarta, Monday, February 7, 2005
11:06 PM

2 Comments:

Blogger abbey said...

i didnt understand anything from your recent blog, but you have the movie "tape" in your profile, and that means you are awesome.

27 February 2005 at 4:01 pm  
Blogger [SiD] said...

Hehe ... u enjoy the movie too? Saw ur profile ... donnie darko, girl interrupted .. excellent choices :) BTW, i enjoy ur writing :)
Cheers
SiD

20 March 2005 at 12:42 am  

Post a Comment

<< Home