Wednesday, October 20, 2004

Tulisan di Awal Ramadhan

Makna Ramadhan

Bulan suci Ramadhan yang insha Allah kita nanti2kan datang juga. Alhamdulillah bagi kita yang masih sempat diberikan kesempatan oleh Allah untuk merasakan keindahan dan kesucian bulan Ramadhan ini.

Sebagai seorang muslim, sudah semestinya kita membuat bulan yang penuh Rahmat ini sebagai salah satu major ‘Milestone’. A time to ponder and contemplate about ourselves and our relationship with our Creator – Allah SWT and make subsequent improvements. Sungguh sangat disayangkan apabila kita mengisi dan melewati Ramadhan tanpa adanya suatu perubahan yang berarti bagi akhirat kita nanti.

Hal ini biasanya dimulai dengan motivasi untuk ingin berubah. Kita harus menganalisa diri kita masing2. Menghisab diri kita. Kita harus jujur kepada hati kita, bahwa kita ini hamba2 Allah yang penuh dengan kekurangan. Dan dari kesadaran tersebut, semestinya terlahirkan sebuah keinginan untuk memperbaiki diri.

Bila kita memang merasa kesulitan untuk membawa suatu perubahan besar dalam diri kita, maka mulailah dengan sesuatu yang kecil tapi continous. Bukankah Allah lebih menyukai amalan2 kecil yang terus menerus daripada amalan besar yang tidak ada lanjutannya lagi – walaupun di dalam keduanya tersimpan kebaikan.

Saya teringat hadith Rasulullah SAW yang mana ada seorang muallaf yang baru saja masuk Islam, dan dia mengaku kepada Rasulullah SAW bahwa dia masih melakukan dosa2 besar seperti berzina, dll. At that point, Rasulullah SAW did not force him to quit the misdeeds right away. But he conditions him to do one thing: to be honest. Dari yang hal2 yang kecil ini, kemudian muallaf ini berhasil memperbaiki dirinya. He quit doing zina and all the major sins that he did when he was not a muslim. (If someone knows the full hadith, maybe s/he can posts it up for reference. Jazakallah)

Dalam konteks kita, dalam bulan Ramadhan ini, mari kita mulai dengan niat dan motivasi yang kuat untuk memperbaiki diri. Kemudian, list down the objectives that we want to achieve this Ramadhan. Tanpa objectives, maka bagaimana kita bisa mengevaluasi diri kita pada akhir Ramadhan ini dan find out whether we have succeed or not. Mulailah dengan amalan2 perbaikan yang kecil, yang bisa kita lakukan. Contohnya dengan menjaga lisan kita. Try to think about what we are going to say, apakah itu membawa kebaikan atau kejelekan? “Speak good or remains quiet”.

Contoh lainnya, dengan terus berdzikir dalam hati – mengingat Allah, dan menyadarkan diri bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar setiap lintasan niat yang terlahir dalam hati. Ini akan menjadi control diri yang sangat efektif. Ingat masa sekolah dulu, mungkin kita pernah mencontek pada saat ujian. Kita akan mencari2 kesempatan pada saat guru lengah. Tapi ketika tahu guru tersebut cukup waspada, berdiri di sebelah kita, niscaya kita tidak bisa mencari celah untuk mencontek walaupun mungkin kita mempunyai niat tersebut.

Tapi Allah berbeda dengan seorang guru. Sang Khaliq berbeda jauh dengan makhluk2nya. Allah itu Maha Sempurna dan kita itu penuh dengan kekurangan. Allah tidak lengah. Kemanapun kita pergi, meskipun kita sendiri secara fisik, tapi Allah melihat apa yang kita lakukan dan bahkan mengetahui apa yang terlintas di dalam hati kita. Kesadaran inilah yang harus kita tanamkan dan tumbuhkan dalam kesadaran kita masing2.

Semoga kita bisa menjadikan bulan Ramadhan ini menjadi bulan tarbiyyah kita untuk menjadi seorang muslim yang lebih baik, untuk memperkuat iman kita. Mengamalkan perbuatan2 yang berguna bagi dunia dan berarti bagi akhirat nanti. Akhirul kalam, mohon maaf bila ada kata2 diatas yang salah. Yang benar itu dari Allah, dan yang salah itu karena kekurangan ilmu dan kebodohan saya pribadi. May Allah forgive me and all of us. Amien ya Rabbal-Alamien.


Jazakallah khairan katsira,
Wassalaam
Mohamad Sidqie Ralibi Djunaedi

Ps: In this occasion, saya juga ingin memohon maaf kepada rekan2 sekalian bila saya telah berbuat salah – dengan lisan saya atau perlakuan saya dll. Mohon maaf lahir batin.